SALAM PRAMUKA


HARI INI


* SALAM PRAMUKA *
>>>>> SELAMAT DATANG DI BLOG GERAKAN PRAMUKA KWARTIR CABAG ASAHAN<<<<< >>>>> DASA DHARMA:Pramuka Itu.1.taqwa kepada tuhan yang maha Esa.2.Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.3.Patriot yang sopan dan ksatria.4.Patuh dan suka bermusyawarah.Rela menolong dan tabah.6.Rajin,terampil,dan gembira.7.Hemat cermat dan bersahaja.Disiplin berani dan setia.Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.10.Suci dalam pikiran,perkataan dan perbuatan. <<<<< >>>>> Trisatya:Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh: 1.menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan pancasila.2.Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat.3.Menepati Dasa Dharma. <<<<< * TETAP MEMANDU *




desain by: RUDY-CK4L.Blogspot.com
Loading...

Kamis, 22 April 2010

H Mutahar, Sang Pencipta Lagu Hari Merdeka

SALAM PRAMUKA

E-mail
h_mutahar1.jpgSetiap tahun apabila kita merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia sudah bisa dipastikan bahwa kita akan sering mendengar Lagu Hari Merdeka yang diciptakan oleh Bapak Husein Mutahar (Alm) yang dinyanyikan baik itu oleh anak-anak, maupun orang dewasa.

 
Sekilas cerita tentang terciptanya Lagu Hari Merdeka yang sering diperdengarkan pada saat Aubade HUT Proklamasi Kemerdekaan RI, menurut pengakuan beliau sendiri, diciptakan di dalam toilet Hotel Garuda Yogyakarta. Ketika itu ia sekamar dengan Hugeng yang kemudian menjadi Kepala Polri, dimana pada saat itu sedang bersama-sama mengawal Bung Karno. Hugeng kebingungan mencarikan kertas dan pulpen karena Mutahar tergopoh-gopoh hendak menuangkan gagasannya ke atas kertas. Selanjutnya, karya cipta lainnya dari H. Mutahar yang cukup dikenal adalah lagu SYUKUR. Menurut beliau, lagu Syukur ini diciptakan pada tahun 1944, adalah sebuah puji syukur yang dipersiapkannya untuk menyambut Kemerdekaan RI yang ketika itu diduganya sudah hampir tercapai.
 
Namun dibalik lagu itu, tahukah anda siapa tokoh pencipta lagu tersebut ? Disini saya mencoba untuk menuliskan sedikit tentang beliau yang saya ketahui selama saya mengenal beliau.
 
Hs. Mutahar saya kenal dari kak Idik Sulaeman. Hingga dalam perjalanan mengenal beliau saya menjadi sangat dekat, terkadang kita begadang untuk berdiskusi tentang segala hal. Saya yang tadinya tidak suka lagu Klasik akhirnya menjadi sangat suka karena beliau. Kedekatan saya dengan kak Hs. Mutahar hingga saya mengganggap beliau adalah eyang saya sendiri, makanya saya selalu memanggil beliau dengan eyang. Banyak sekali yang saya dapatkan mengenai kehidupan dan karakter kepribadian dari beliau dan itu sangat menempel dalam diri saya.
 
Mungkin sebagian besar dari kita tidak banyak mengenal beliau, atau mengenal sebatas ia adalah seorang pencipta lagu. Dibalik itu semua belai mempunyai jasa yang besar untuk Republik Indonesia ini. Mari kita mengenal beliau lebih dalam lagi.
 
Bapak Husein Mutahar lahir di Semarang, Jawa Tengah pada tanggal 5 Agustus 1916. Perjalanan pendidikan formalnya dimulai dari ELS (Europese Lagere School atau sama dengan SD Eropa selama 7 tahun) , kemudian dilanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Ondewwijs atau sama dengan SMP selama 3 tahun) dan dilanjutkan ke AMS (Algemeen Midelbare School atau sama dengan SMA selama 3 tahun) Jurusan Sastra Timur khususnya Bahasa Melayu, di Yogyakarta. Kemudian beliau melanjutkan ke Universitas Gajah Mada dengan mengambil Jurusan Hukum dan Sastra Timur dengan khusus mempelajari Bahasa jawa Kuno namun perkuliahan nya hanya 2 tahun karena selanjutnya drop out (DO) karena harus ikut berjuang.
 
Perjuangan Seorang Husein Mutahar
h_mutahar.jpgBeberapa hari menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama, Presiden Soekarno memberi tugas kepada salah satu ajudannya, Mayor M. Husein Mutahar, untuk mempersiapkan upacara peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus 1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.
 
Mutahar, yang dikenal punya rasa kebangsaan sangat kental (ditandai dengan lagu-lagu ciptaannya seperti Hari Merdeka dan Syukur), segera memenuhi permintaan Bung Karno. Acara pun disusun satu persatu, mulai dari pembacaan naskah Proklamasi. Namun, tiba-tiba Mutahar teringat akan sesuatu. Menurut dia, rasa cinta Tanah Air, persatuan dan kesatuan bangsa wajib dilestarikan kepada generasi penerus. “Tapi, simbol-simbol apa yang bisa digunakan?”
 
Melalui materi yang akan dipakai pada upacara itu, Mutahar memilih pengibaran bendera (pusaka). Dalam benaknya, pengibaran lambang negara itu memang sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia (seperti juga pada tahun 1945). Tanpa buang waktu, ditunjuknya lima pemuda (terdiri dari tiga putri dan dua putra) untuk menjadi pelaksana pengibaran bendera. Lima orang itu, dalam pikiran Mutahar adalah simbol dari Pancasila. Salah satu pengibar bendera pusaka pada 17 Agustus 1946 itu adalah Titik Dewi, pelajar SMA asal Sumatera Barat yang saat itu sedang menuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta.
 
Dari pengalaman pertama tahun 1946 itu, Mutahar menganggap apa yang dilakukannya sudah tepat. Bung Karno pun tidak memprotes keputusan yang diambil Mutahar untuk menyerahkan tugas pengibaran bendera pusaka kepada para pemuda. Berturut-turut, pada tahun 1947 dan 1948, pengibaran bendera oleh lima pemuda asal berbagai daerah itu terus dilestarikan.
 
Pada akhir tahun 1948 Bung Karno serta beberapa Pemimpin sempat ditangkap Belanda dan diasingkan ke Parapat (Sumatera Utara), lalu dipindahkan ke Muntok (Bangka). Saat itu, bendera pusaka sempat diselamatkan oleh Husein Mutahar dari sitaan Belanda, bahkan dikirimkan ke Bangka dengan cara yang rumit dan sulit.
 
Tanggal 6 Juli 1949, Bung Karno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta kembali ke Yogyakarta dari Bangka dengan membawa serta bendera pusaka. Tanggal 17 Agustus 1949, bendera pusaka kembali dikibarkan di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta.
 
Seusai penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan lndonesia pada 27 Desember 1949 di Den Haag (Konferensi Meja Bundar), Ibukota Republik Indonesia dikembalikan ke Jakarta. Pada 17 Agustus 1950, pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di halaman Istana Merdeka Jakarta. Husein Mutahar tidak lagi terlibat, karena regu-regu pengibar bendera pusaka diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan RI. Pada kurun waktu tersebut, pada pengibar kebanyakan diambil dari unsur pelajar atau mahasiswa yang ada di Jakarta.
 
Tahun 1966, Kak Mutahar mendapat jabatan sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itulah, ia kembali ingat dengan gagasannya tahun 1946.
 
Dari sana Kak Mutahar dan Ditjen Udaka melakukan latihan dengan nama “Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber- Pancasila” yang sempat diujikan pada tahun 1966 dan 1967. kurikulum uji coba “Pasukan Penggerak Bendera Pusaka” dimasukkan dalam latihan itu pada tahun 1967 dengan peserta dari Pramuka Penegak yang berasal dari beberapa Gudep di Jakarta.
 
Kekhasan latihan itu adalah konsep pelatihan dengan menggunakan metode “Keluarga Bahagia” dan diterapkan secara nyata dalam konsep “Desa Bahagia”. Di desa itu, para peserta latihan di ajak berperan serta dalam menghayati kehidupan sehari- hari yang menggambarkan penghayatan dan pengamalan Pancasila.
 
Tahun 1967, Husein Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk diminta pendapat dan menangani masa-masa pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Kak Mutahar, ibarat mendapat ‘durian runtuh’ karena ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan pengibar bendera pusaka yang terdiri dari para pemuda.
 
Kak Mutahar lalu kembali menyusun ulang dan mengembangkan formasi pengibaran bendera pusaka. Formasi tersebut terdiri dari tiga kelompok yakni kelompok 17 (Pengiring/Pemandu), kelompok 8 (Pembawa/Inti), dan kelompok 45 (Pengawal). Formasi tersebut merupakan simbol dari hari kemerdekaan RI (17-6-45).
 
Kak Mutahar berpikir keras dan mencoba mensimulasikan keberadaan pemuda utusan daerah dalam gagasannya. Ketika itu, belum mungkin dihadapkan pemuda-pemuda yang langsung berasal dari daerah. Kak Mutahar kemudian mendatangkan pemuda- pemuda daerah yang ada di Jakarta. Sedangkan formasi 45 diisi oleh Pasukan Pengawal Presiden (sekarang Paspampres) setelah usaha mendatangkan para taruna AKABRI mengalami kendala.
 
Tanggal 17 Agustus 1968 kemudian pasukan khusus terwujud dengan melibatkan pemuda daerah yang sesungguhnya. Pemuda-pemuda tersebut adalah utusan dari daerah langsung. Selama kurun waktu dari tahun 1967 hingga tahun 1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan “Pasukan Penggerak Bendera”. Tahun 1973, Idik Sulaeman yang menjabat Kepala Pengembangan dan Latihan P&K dan membantu Kak Husein Mutahar dalam pembinaan latihan melontarkan gagasan baru tentang nama pasukan pengibar bendera pusaka.
 
Kak Mutahar yang tak lain adalah mantan Pembina Penegak Idik Sulaeman di Gerakan Pramuka Setuju. Maka, kemudian meluncurlah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutkan: PASKIBRAKA: singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. Kak Idik Sulaeman memang yang memberi nama Paskibraka. Tapi,hakekatnya, kak Mutahar-lah yang menggagas Paskibraka sehingga beliau pantas dijuluki ‘Bapak Paskibraka’.
 
Kak Husein Mutahar kemudian meninggal dunia pada tanggal 9 Juni 2004 pada usia 87 tahun. Walaupun beliau berhak dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata karena memiliki Tanda Kehormatan Negara Bintang Mahaputera atas jasanya menyelamatkan Bendera Pusaka Merah Putih dan juga memiliki Bintang Gerilya atas jasanya ikut berperang gerilya pada tahun 1948 - 1949 tetapi Beliau tidak mau dan kemudian dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan.
 
Kematian beliau sangat memukul saya, begitu sedihnya saya saat itu. Sore itu sekitar pukul 17.00 saya pulang kantor, Kak Idik menelpon saya, beliau berkata, “Hen, Eyang sudah tidak ada tadi pukul 16.30,” sontak langsung lemas badan saya, saya lanjutkan perjalanan sampai kerumah karena sudah tidak terlalu jauh dari rumah, sesampai dirumah saya hanya sempat ganti baju, dan pamitan ke istri langsung berangkat ke rumah duka di Jalan Damai No 20, Cipete, Jakarta Selatan.
Diantara riwayat pekerjaan beliau adalah sebagai berikut:



1. Guru Bahasa Belanda di SD Islam swasta di Pekalongan
2. Wartawan berita kota dari Surat Kabar berbahasa Belanda “Het Noorden” di Semarang tahun 1938,
3. Klerk di Cosultatie Bureau der Afdeling Nijverheid voor Noord Midden Java, Departement Ekonomische Zaken, 1939-1942
4. Sekretaris Keizai Bucho (Kepala Bagian Ekonomi) Kantor Gubernur Jawa Tengah, 1943.
5. Pegawai Rikuyu Sokyoku (Jawatan Kereta Api Jawa Tengah Utara) di Semarang, 1943-1948.
6. Sekretaris Panglima Angkatan Laut Republik Indonesia, 1945-1946.
7. Ajudan III, kemudian Ajudan II Presiden Republik Indonesia 1946-1948.
8. Pegawai Departemen Luar Negeri Republik Indonesia, 1969 - 1979.
9. Diperbantukan pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Direktur Jenderal Urusan Pemuda dan Pramuka (Dirjen Udaka) Departemen P&K, 1966-1968.
10. Diangkat menjadi Duta Besar Republik Indonesia pada Tahta Suci di Vatikan, 1969-1973.
11. Direktur Protokol Departemen Luar Negeri merangkap Protokol Negara, 1973-1974
12. InspekturJenderal Departemen Luar Negeri dan selama 16 bulan, merangkap Direktur Protokol dan Konsuler Departemen Luar Negeri, merangkap Kepala Protokol Negara, 1974.
13. Pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil, golongan IVe.



Sementara pengalaman berorganisasi beliau adalah sebagai berikut:

1. Pemimpin Pandu dan Pembina Pramuka, 1934-1969
2. Anggota Partai Politik, 1938 – 1942
3. Kepala Sekolah Musik di Semarang, sebagai tempat penanaman, penyebaran, dan pengobaran semangat kebangsaan Indonesia, dan sebagai gerakan penyebaran semangat melawan Jepang dan kamuflase gerakan subversi melawan Jepang, 1942-1945
4. Anggota AMKRI (Angkatan Muda Kereta Api Indonesia) di Semarang, 1945.
5. Anggota BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) Jawa Tengah, 1945.
6. Anggota redaksi majalah ‘Revolusi Pemuda’ 1945-1946.
7. Gerilya, 1948-1949
8. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai pemimpin Pandu serta kemudian menjadi anggota Kwartir Besar Organisasi Persatuan dan Kesatuan Kepanduan Nasional Indonesia "Pandu Rakyat Indonesia", 28-12-1945 s.d. 20-5-1961
9. Ikut mendirikan dan bergerak sebagai Pembina Pramuka, duduk sebagai anggota Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Andalan Nasional Urusan Latihan, 1961-1969
10. Sekretaris Jenderal Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka, 1973 -1978, dan anggota biasa, 1978-2004.



Tulisan ini dipersembahkan untuk mengenang jasa-jasa Eyang, Kakak Hs. Mutahar oleh adikmu Hendry Risjawan



Oleh: Hendry Risjawan*
Penulis adalah seorang trainer.

Tidak ada komentar: